Kunjungan Kerja Komisi ”B”
Untuk mengembangan industri kecil di Sulawesi Tenggara, Komisi ”B” DPRD Sultra, Jum’at (1/5) melakukan kunjungan kerja (kunker) ke Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Ketua Komisi ”B”, H. Ruslimin Mahdi, SH. menyatakan, kota kelahiran RA. Kartini pejuang emansipasi wanita itu menjadi obyek kunker lantaran memiliki berbagai potensi di bidang industri kecil. ”Disana bukan hanya dikenal kota ukiran. Namun, industri kecil baik berupa anyaman, monel, tenun, serta lainnya berkembang cukup pesat. Negara tujuan ekspor mereka hingga ke tujuh puluh negara”, katanya sesaat sebelum berangkat.
Rombongan Komisi ini diterima oleh Ir. Suripno, M.Si., Staf Ahli Bupati Jepara Bidang Pembangunan Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia dan beberapa staf Dinas Perindag Kab. Jepara. Para anggota Komisi ”B” yang terdiri dari H. Ruslimin Mahdi, SH., Yaudu Salam Ajo, S.Pi., Ir. H. Andi Pangerang Umar, Drs. H. La Ode Palaido, Drs. H. Adriah Saleh, dr. H. LM. Sjahrul, M.Sc. , Mudatsir Usman, SE., dan H. La Ode Diki, SH., banyak mendapat masukan berarti terkait industri kecil Jepara. Memang, urat nadi bumi Kartini ini bisa dikatakan dihidupi oleh industri. Bahkan, lantaran majunya sektor industri Jepara, di tahun 2007, Bupati Jepara berhasil meraih penghargaan Upakarti yakni kepedulian disektor industri dari Presiden RI.
Sebenarnya secara geografis letak Jepara kurang menguntungkan karena bukan merupakan daerah lintasan antar daerah. ”Yang datang ke sini lebih karena tujuan khusus. Tetapi karena keunggulan SDM, beberapa potensi dan kreativitas wilayah ini terus berkembang. Dengan potensi industri yang sebagian besar berskala menengah kecil, Jepara memang layak dijuluki Kota Industri Kecil. Bahkan di wilayah selatan Jepara, tepatnya Desa Progono dan sekitarnya dijuluki sebagai ”Jepangnya” Jepara karena pesatnya industri dikawasan itu. ”Mungkin kalau sempat, njenengan (anda, red.) bisa lihat ke sana”, ujar salah seorang staf Dinas Perindag setempat dengan aksen Jawa halus merekomendasikan.
Beberapa kerajinan asal Jepara telah malang melintang di tanah air hingga mancanegara. Mungkin tak disangka, tenun ikat Troso yang banyak beredar di Bali ternyata made in Jepara. Berbagai produk furniture daerah ini banyak dipasarkan, baik dalam maupun luar negeri. Bahkan saat booming tahun 2007 daerah ini memiliki 243 eksportir meubel dengan 98 negara tujuan. ”Dari sisi edukasi, beberapa pengusaha ekspor kami adalah tamatan SD. Omset mereka mencapai milyaran. Tetapi mereka mampu berbahasa Inggris dan staf mereka banyak sarjana,” jelas Ir. Suripno, M.Si., bangga.
Yaudu Salam Ajo, S.Pi., salah seorang anggota Komisi ”B” tak mampu menyembunyikan rasa keingintahuannya. Saat sesi tanya jawab langsung melontarkan pertanyaan. Misalnya, keingintahuannya mendirikan berbagai sentra industri dan bisa menjangkau 70 negara tujuan ekspor. ”Ini merupakan tambahan wawasan bagi kami. Akan jadi masukan kami bagi mitra kerja di eksekutif untuk kemajuan industri daerah,”tuturnya.
Pada kunjungan lapangan, kalangan Dewan asal Sultra ini mengunjungi daerah sentra ukir-ukiran. Beberapa produk dengan kualitas bagus dengan harga terjangkau sempat menarik minat mereka untuk dibeli sebagai buah tangan saat kembali ke Sultra. ”Hasil kerjanya bagus-bagus dan memang layak Jepara sebagai Kota Industri Kecil,” tutur Kabag. Humas Sekwan DPRD Sultra, Drs. Ali Murni, M.Si., yang turut menyertai anggota Komisi ”B”.
Puas setelah seharian melakukan kunker di Jepara, rombongan Komisi ”B” dan staf pendamping beranjak menuju Surabaya untuk pulang menuju Kendari Sultra. (Rudy, MS)
2 Mei